Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Perhitungan Contoh Kasus AHP

Sambil mencari trik-trik magic (sulap) yang rencananya akan saya implementasikan dalam kode php dan buat ebooknya, saya akan mencoba memberikan pemahaman saya mengenai algoritma analytic hierarchy process (AHP). Sebenarnya saya telah memberikan link belajar untuk memahami algoritma AHP pada postingan artikel saya sebelumnya. Namun, disini saya akan mencoba mengulas sedikit tentang AHP berdasarkan pemahaman saya, bagaimana cara kerja AHP dalam pengambilan keputusan multi kriteria dan implementasi algoritma AHP pada contoh kasus pemilihan mobil.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari permasalahan dan kita dituntut untuk dapat mengambil keputusan yang tepat. Dari mulai yang sederhana, seperti menentukan jenis jajanan yang ekonomis tapi sehat, sampai untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan industri. Untuk pengambilan keputusan dengan satu kriteria saja mungkin tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Namun, bagaimana dengan permasalahan yang melibatkan multipilihan dengan multikriteria penilaian?

Disinilah algoritma AHP berperan. Analytic Hierarchy Process atau AHP dikembangkan oleh Prof. Thomas L. Saaty sebagai algoritma pengambilan keputusan untuk permasalahan multikriteria (Multi Criteria Decision Making atau MCDM). Permasalahan multikriteria dalam AHP disederhanakan dalam bentuk hierarki yang terdiri dari 3 komponen utama. Yaitu tujuan atau goal dari pengambilan keputusan, kriteria penilaian dan alternatif pilihan. Adapun gambar dari hierarki tersebut adalah sebagai berikut.
Hierarki AHP

Setelah permasalahan multikriteria dimodelkan dalam hierarki seperti gambar diatas, maka dapat dimulai tahapan perbandingan berpasangan (pairwise comparison) untuk menentukan bobot kriteria. Tahap perbandingan berpasangan ini akan digunakan pada saat mencari/menghitung bobot kriteria dan bobot alternatif untuk setiap kriteria penilaian.  Misal ada sejumlah m kriteria M dan sejumlah n alternatif N. Maka perbandingan berpasangan dilakukan antar anggota kriteria M pada tahap mencari bobot kriteria. Dan perbandingan berpasangan dilakukan antar anggota alternatif N untuk setiap anggota kriteria M.

Perbandingan berpasangan dilakukan berdasarkan preferensi subyektif dari pengambil keputusan. Untuk penilaiannya menggunakan Skala Perbandigan 1-9 Saaty seperti terlihat pada gambar berikut.
Skala 1-9 Saaty

Setelah bobot kriteria didapatkan, selanjutnya dilakukan pengecekan konsistensi untuk matrik perbandingan berpasangan-nya. Jika lebih dari 0.1 maka harus dilakukan perbandingan berpasangan kembali sampai didapat ratio kurang dari atau sama dengan 0.1 (konsisten). Hal yang serupa dilakukan juga terhadap masing-masing matrik perbandingan antar alternatif.

Setelah bobot kriteria dan bobot alternatif didapatkan maka dihitung total dari perkalian antara bobot alternatif dengan bobot kriteria yang bersesuaian. Untuk lebih memperjelas lagi cara/alur kerja AHP ini, saya akan membahas contoh kasus pengambilan keputusan pemilihan mobil menggunakan algoritma AHP.

Problem : Andi ingin membeli mobil. Adapun alterntif pilihan mobil yang akan dibeli Andi adalah Civic Coupe, Saturn Coupe, Ford Escort, dan Mazda Miata. Sedangkan kriteria penilaian yang dipertimbangkan Andi untuk membeli mobil adalah style, reliability, fuel economy.

Dari kasus yang dihadapi Andi, maka buat hierarki permasalahannya terlebih dahulu. Tujuan atau Goal adalah Memilih Mobil. Kriterianya gaya, mesin handal, hemat bahan bakar. Alternatif pilihan Andi adalah Civic Coupe, Saturn Coupe, Ford Escort dan Mazda Miata. Selanjutnya berikut ini hierarki yang didapat melalui 3 komponen tersebut.
Hierarki Kasus AHP

Selanjutnya lakukan perbandingan berpasangan dengan Skala Saaty untuk mendapatkan bobot kriteria:

  1. Perbandingan Berpasangan Dengan Skala Saaty
  2. Perbandingan Kriteria

  3. Hitung bobot kriteria (priority vector) dengan cara : 1) normalisasi nilai setiap kolom matrik perbandingan berpasangan dengan membagi setiap nilai pada kolom matrik dengan hasil penjumlahan kolom yang bersesuaian. 2) Hitung nilai rata-rata dari penjumlahan setiap baris matrik
  4. Pairwise Comparison

  5. Cek Konsistensi Ratio (CR) dari matrik perbandingan berpasangan kriteria. Jika CR > 0.1 maka harus diulang kembali perbandingan berpasangan sampai didapat CR <= 0.1.
  6. Hitung CI
    CI
    Tabel IR
    IR
    Sehingga CR = CI/IR = 0.03/0.58 = 0.05 (<=0.1, sehingga konsisten)

  7. Susunan hierarki yang baru (lengkap dengan bobot kriteria)
  8. Perhitungan bobot alternatif untuk kriteria Style
  9. Perhitungan bobot alternatif untuk kriteria Reliablity
  10. Perhitungan bobot alternatif untuk kriteria Fuel Economy
  11. Susunan Hierarki yang baru (lengkap dengan bobot kriteria dan bobot alternatif)
  12. Perangkingan Alternatif ( hasil penjumlahan dari perkalian setiap bobot alternatif dengan bobot kriteria yang bersesuaian)

Demikianlah uraian artikel mengenai Analytic Hierarchy Process (AHP) ini. Semoga dapat bermanfaat dan membantu memberikan pemahaman bagi Anda yang sedang mempelajari algoritma AHP. Berikut ini juga ditambahkan beberapa referensi yang dijadikan acuan sumber dalam penulisan artikel ini. Dan juga dapat menjadi referensi lebih lanjut bagi Anda untuk memahami lebih dalam mengenai algoritma AHP.

Referensi :

  1. Penulisan artikel berdasarkan pemahaman saya setelah membaca :
  2. Teknomo,Kardi.Tutorial AHP.http://people.revoledu.com/kardi/tutorial/AHP/index.html
    Kusrini.Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan.Andi
    Tzeng,Gwo-Hsiung dan Huang,Jih-Jeng.Multiple Attribute Decision Making Mehods and Application.CRC Press

  3. Pembahasan contoh kasus diambil dari :
  4. Asli Sencer.Analytic Hierarchy Process.http://www.mis.boun.edu.tr/sencer/mis463/slides/ahp.ppt

NB: Saya juga menyediakan script PHP dan Mysql untuk SPK Metode AHP dengan kasus Evaluasi Kinerja Karyawan dengan harga Rp 350.000 (bisa dimodif (Anda sendiri) untuk kasus yang relevan). Jika berminat, SMS ke 0852 9635 2409 dengan format : Order SPK AHP Email Anda. Saya juga menyediakan jasa pembuatan SPK dengan metode AHP mulai dari 0 sesuai kasus Anda. Harga jasa ini Rp 1.5 juta. Tertarik? SMS ke 0852 9635 2409 dengan format : Order Full SPK AHP Email Anda.

16 thoughts on “Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Perhitungan Contoh Kasus AHP

  1. Ping-balik: Sistem Pakar Penyeleksi Siswa Penerima Beasiswa Menggunakan Metode AHP | Asyifaimanda's Blog

  2. Selamat malam, saya mau tanya.. saya sedang membuat TA ttg penggajian. Apabila dalam kriteria terdapat subkriteria, maka pembagian bobot untuk subkriterianya bagaimana ya? misalnya untuk memilih pegawai dibutuhkan kriteria tanggung jawab, ketrampilan, kecakapan, kondisi kerja dan usaha.. lalu utk masing2 kriteria terdapat subkriteria, misalnya utk kecakapan terdiri dari pendidikan, pengalaman dan pelatihan. Bagaimana cara menghitungnya? Terima kasih bantuannya.

    • @siska : Sebelumnya maaf baru bisa respon komentar Anda sekarang. Cara menghitung bobot sub kriteria sama seperti saat menghitung bobot kriteria. Yaitu menggunakan matrik berpasangan dengan skala Saaty 1-9. Info lebih detil dapat Anda baca pada referensi yang telah saya cantumkan pada posting AHP di blog ini. Semoga membantu.

  3. Ping-balik: Tugas 5 (Teori Organisasi Umum 2) / A. WILSON / 1A112016 / 2KA24 « Wilson's Blog

  4. Ass. Maaf mas… kayaknya untuk langkah no. 5 “Perhitungan bobot alternatif untuk kriteria Style” hasil rasionya tidak konsisten mas… soalnya bobotnya > 0.1

  5. Gan bisa jelaskan kelebihan dan kekurangan metode AHP gk,?
    ane bingung mau pake ahp atau SAW,? tema “penilaian terhadap kinerja karyawan di pt xxx”
    atau mungkin kasih saran lain selain kedua metode tsb? terima kasih Gan..sukses Gan.

    • kenapa ngga penggabungan antara keduanya aja? biar lebih komplit. Yang membuat AHP beda dengan SAW adalah adanya proses pembobotan untuk kriteria penilaian sesuai dengan preferensi user menggunakan pairwaise comparisonnya Saaty skala 1-9. Kalau di SAW pembobotan kriteria dilakukan secara langsung saja misal user mau kriteria1 bobotnya 10, kriteria2 bobotnya 30, kriteria3 bobotnya 50 dan kriteria4 bobotnya 10 sehingga total 100. Baru nanti di penilaian akhir menggunakan rumus SAW. nah kalau mau komplit digabungkan, pas pembobotan kriteria pake AHP, penilaian akhir menggunakan SAW.. itu kalau dari pemahaman saya. Selebihnya silahkan googling ya. (kalau ada yang kurang silahkan diralat sendiri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s